Loading...
Siak Hulu, Kampar, Riau
Mon - Fri : 09.00 AM - 09.00 PM
+62 818 880 600
Menuju Sekolah Tahfizh Makkah Mandiri

Pentingnya tajwid dalam proses menghafal Alquran

user avatar
Ditinjau oleh
30 Jul 2025 5:50 PM
image-article

Sumber Gambar: Sekolah Tahfizh Makkah

Alquran adalah kitab suci yang diturunkan oleh Allah ﷻ kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagai petunjuk dan rahmat umat manusia, sebagaimana yang difirmankan Allah ﷻ pada banyak ayat. Salah satunya di dalam surat Al-Baqarah:

ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

“Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 2)

Lebih dari itu, keberadaan Alquran juga merupakan pedoman hidup yang membentuk nilai, etika, dan tindakan umat manusia yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ia merupakan mukjizat yang tidak hanya mengandung petunjuk hidup, hukum, dan akhlak, tetapi juga keindahan bahasa dan keajaiban fonetik yang tidak tertandingi. Keajaiban fonetik adalah fenomena bahasa yang menakjubkan dan kompleks, yang melibatkan cara manusia menghasilkan dan memproses suara bahasa. Salah satu aspek terpenting dalam interaksi dengan Alquran adalah tajwid, yakni ilmu yang mengatur cara membaca Alquran dengan benar dan sesuai dengan kaidah yang diturunkan dari Rasulullah ﷺ.

Dalam konteks penghafalan (hifz), tajwid memegang peran krusial yang sering kali diremehkan. Menghafal Alquran bukan semata mengingat deretan huruf dan kata, melainkan suatu bentuk pengabdian tertinggi terhadap kitab suci ini yang tidak hanya berkaitan dengan kapasitas intelektual, tetapi juga merupakan amal ibadah yang luhur. Proses hafalan yang melibatkan kehadiran hati, disiplin rohani, serta niat ikhlas untuk menjaga kalamullah di dalam dada, sehingga menuntut kesesuaian antara lisan, hati, dan niat. Tanpa tajwid, penghafalan dapat terdistorsi, baik dari segi makna maupun kedalaman spiritual.

Tajwid sebagai pilar utama keaslian bacaan

Ilmu tajwid berasal dari akar kata jawwada yang berarti "membaguskan". Dalam istilah, tajwid berarti mengeluarkan setiap huruf dari makhraj (tempat keluarnya) dengan memberikan hak dan mustahaknya. Dalam konteks ini, tajwid bukanlah tambahan atau pelengkap yang opsional dalam membaca Alquran, melainkan merupakan bagian esensial dalam menjaga orisinalitas bacaan sebagaimana yang diturunkan kepada Nabi ﷺ.

Allah ﷻ berfirman dalam Surah al-Muzzammil ayat 4:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

"Dan bacalah Alquran itu dengan perlahan-lahan.”
(QS. Al-Muzzammil: 4)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa maksud dari tartil adalah membaca dengan tajwid, yaitu dengan memperjelas huruf-hurufnya, memelihara hukum-hukum bacaan, dan menahan diri dari tergesa-gesa agar makna dan keindahannya terdengar dengan baik. Dalam proses menghafal, hal ini menjadi landasan yang kuat. Seorang hafizh yang tidak menerapkan tajwid dalam bacaannya akan mudah jatuh pada kesalahan dalam makna dan ketepatan fonetik, sehingga dapat menimbulkan ketidaksempurnaan pahala seorang hafidz.

Sebagaimana yang nabi ﷺ sabdakan:

مَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهْوَ حَافِظٌ لَهُ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَمَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهْوَ يَتَعَاهَدُهُ وَهْوَ عَلَيْهِ شَدِيدٌ، فَلَهُ أَجْرَانِ 

“Perumpamaan orang yang membaca Alquran dalam keadaan sudah menghafalnya, maka ia berada bersama para malaikat yang mulia dan taat. Adapun perumpamaan orang yang membaca Alquran sambil terus-menerus menelaah (mengulang) hafalannya yang terasa berat baginya maka baginya dua pahala.”
(HR. Bukhari: 4937)

Maka, sebagai seorang penghafal Alquran, penting bagi kita untuk selalu mengintropeksi bacaan Alquran kita, baik dari segi tajwid maupun hafalan. Salah satu caranya adalah dengan mencari sosok guru yang dapat memastikan bacaan kita sesuai dengan yang nabi ﷺ ajarkan kepada para sahabatnya, sehingga kita dapat mencapai fadhilah-fadhilah mulia yang diperuntukkan untuk para penghafal Alquran.

Sosok guru untuk membimbing bacaan Alquran: Sekolah Tahfizh Makkah

Bagi para penghafal Alquran, menghafalnya tanpa tajwid bukanlah sekadar kesalahan teknis, tetapi juga dapat berakibat pada perubahan makna ayat. Perubahan panjang pendek harakat (mad), kesalahan dalam huruf, atau ketidaktepatan makhraj yang dapat menyebabkan perubahan makna yang sangat berbeda bahkan bertentangan. Contoh paling sederhana adalah kesalahan membaca kata “عَلِمَ” (telah mengetahui) menjadi ”عَلَّمَ” (telah mengajarkan), yang tentunya membawa makna yang berbeda dalam penafsirannya.

Hal ini diperkuat oleh sabda Nabi Muhammad ﷺ:

اقرؤوا كما علمْتُم، فإنَّما أهْلَك من كان قبلَكم اختلافُهم على أنبيائِهم

"Bacalah (Alquran) sebagaimana kalian diajarkan, sesungguhnya yang membinasakan orang sebelum kalian adalah perselisihan mereka terhadap para nabi mereka.”
(Sahih Al-Jami` lil Albani: 1171)

Rasulullah ﷺ mengajarkan kita bahwa membaca Alquran tidak boleh dengan sembarang cara, tetapi harus sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ melalui sanad yang shahih. Ini juga mengisyaratkan pentingnya mempelajari dan menerapkan ilmu tajwid dalam membaca dan menghafal. Karena tanpa mempelajari ilmu tajwid, kita tidak akan mampu membaca Alquran sesuai dengan yang diwariskan nabi kita ﷺ kepada para sahabatnya.

Nabi ﷺ mewariskan mukjizat yang paling agung kepada para sahabatnya, yaitu Alquran dengan membacakan Alquran kepada mereka dengan bacaan yang sempurna dan lengkap, tanpa menambahkan dan mengurangi satupun tajwid maupun baris, dan para sahabat ﷻ tersebut kembali mewariskan peninggalan Rasulullah ﷺ tersebut kepada para salafus ummah yang dijaga hati dan iman mereka setelah mereka untuk diwariskan kepada orang-orang setelahnya hingga sampai kepada kita dalam bentuk yang sebagaimana Allah ﷻ turunkan.

Dalam tradisi keilmuan Islam, sanad bacaan Alquran merupakan aspek fundamental dalam menjaga keaslian bacaan yang nabi ﷺ bacakan. Setiap qari dan hafizh yang shahih memiliki rantai sanad yang menyambung hingga Rasulullah ﷺ. Sanad ini tidak hanya menunjukkan silsilah bacaan, tetapi juga menjamin bahwa setiap penghafal mempelajari Alquran secara tajwid.

Imam Al-Jazari dalam matan Al-Jazariyyah menyatakan:

وَالأَخْذُ بِالتَّجْوِيدِ حَتْمٌ لازِمُ ... مَنْ لَمْ يُجَوِّدِ الْقُرَآنَ آثِمُ

"Mengamalkan tajwid adalah kewajiban yang mutlak,
Barangsiapa tidak membaca Alquran dengan tajwid, maka ia berdosa."

Kalimat ini tidak hanya menunjukkan kewajiban tajwid secara syar’i, tetapi juga bahwa pelanggaran dalam kaidah tajwid saat menghafal membawa akibat dosa karena merusak lafadz wahyu yang suci.

Maka, seorang penghafal Alquran harus terlebih dahulu memastikan bahwa bacaannya benar sebelum ia menghafal lebih lanjut. Bahkan ketika menjadi makmum di belakang imam yang tidak lancar membaca Alquran akan memiliki dampak terhadap shalat kita, terutama apabila kesalahannya termasuk lahn jali, yaitu kesalahan besar yang dapat mengubah arti bacaan. Contohnya, apabila imam membaca kata "أنعمتَ" (Engkau telah memberi nikmat) menjadi "أنعمتُ" (aku telah memberi nikmat), maka artinya berubah dan makna ayat menjadi salah. Karena membaca Al-Fatihah dengan benar adalah rukun shalat, maka menurut para ulama seperti Imam Ibnu Qudamah dan Syeikh Utsaimin, imam seperti ini tidak sah shalatnya, dan makmum yang tahu kesalahan itu juga tidak sah shalatnya apabila tetap mengikutinya.

Nabi ﷺ menegaskan pentingnya surat Al-Fatihah didalam hadistnya:

'مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَهْىَ خِدَاجٌ' ‏.‏ يَقُولُهَا ثَلاَثًا بِمِثْلِ حَدِيثِهِمْ

"'Barangsiapa mengerjakan shalat tanpa membaca Fatihatul Kitab (Al-Fatihah) di dalamnya, maka shalatnya tidak sempurna.’ Beliau mengulanginya tiga kali dengan lafaz yang sama.”
(HR. Muslim: 395)

Jadi, apabila seorang imam salah membaca Al-Fatihah sampai dapat merusak makna, shalatnya dan shalat makmum yang sadar dengan kesalahan tersebut tidak sah.

Tapi apabila kesalahan imam tidak mengubah arti, seperti bacaan mad-nya kurang panjang, tidak mendengung saat ghunnah, atau salah dalam hukum bacaan, tapi arti ayat tetap benar, maka hukum shalatnya tetap sah, hanya saja makruh bermakmum kepadanya. Ulama seperti Imam Nawawi dalam Al-Majmū’ menjelaskan bahwa kesalahan seperti ini tidak membatalkan shalat karena tidak merusak makna. Dalam keadaan tertentu seperti di kampung atau tempat yang minim pengajar, imam yang hanya hafal surat pendek atau belum fasih, tetap boleh jadi imam asalkan bacaan Al-Fatihahnya benar. Ini sejalan dengan firman Allah:

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

"Karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Alquran.”
(QS. Al-Muzzammil: 20)

Ayat ini menunjukkan bahwa apabila memang kemampuan terbatas, maka diperbolehkan membaca sesuai dengan kemampuan selama syarat sah shalatnya tetap terpenuhi.

Menghafal Alquran bukan sekadar mengisi kepala dengan ayat-ayat, melainkan juga merupakan proses spiritual yang lebih dalam. Tajwid memungkinkan pembaca untuk merenungi ayat-ayat dengan tenang, jelas, dan penuh kekhusyukan. Tajwid memperlambat bacaan dan memberikan ruang untuk berfikir, menangis, merenung, dan memahami isi hati Allah ﷻ. Sebagaimana tujuan Alquran diturunkan kepada umat manusia adalah sebagai kitab pedoman yang setiap ayat-ayat Nya memiliki hikmah dan pelajaran. Allah Ta’ala menjelaskan di dalam firman Nya:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Kitab (Alquran) yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.”
(QS. Shaad: 29)

Tajwid bukan hanya membantu dalam penghafalan, tetapi juga membuka pintu tadabbur. Dalam proses menghafal, pelafalan yang benar akan membawa kepada pemahaman yang benar pula, sehingga penghafal tidak hanya hafal secara mekanik, tetapi juga hidup dalam ruh Alquran.

Membaca Alquran dengan lancar lafadznya maupun tajwidnya, sesuai dengan yang diwariskan kepada kita, dan mentadabburinya sesuai dengan makna-maknanya, hingga melaksanakan dan mempratekkan apa yang diajarkan di dalamnya. Allah ﷻ mengindikasikan mereka sebagai orang yang beriman. sebagaimana Allah ﷻ firmankan:

اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَتْلُوْنَهٗ حَقَّ تِلَاوَتِهٖۗ اُولٰۤىِٕكَ يُؤْمِنُوْنَ بِهٖۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَࣖ

"Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab, mereka membacanya sebagimana mestinya (tidak mengubah dan tidak mentakwilkan Al Kitab sesuka hati), mereka itulah yang beriman kepadanya. Dan barang siapa yang ingkar kepadanya, mereka itulah orang- orang yang rugi.”
(QS. Al-Baqarah: 121)

Para mufassir seperti Ibnu Abbas menafsirkan “haqqa tilāwatihi” sebagai bacaan yang sesuai dengan hukum tajwid dan makna.

Tidak seperti kitab-kitab terdahulu yang Allah serahkan penjagaannya kepada para pemuka agama umat-umat terdahulu, Alquran diberi keistimewaan mulia dengan Allah yang menyerahkan perlindungan dan penjagaannya kepada Allah sendiri, maka cukuplah Allah sebagai penjaga. Tidak akan ada yang dapat untuk mengubah huruf-huruf Nya maupun susunan surat Nya. Allah ta’ala berfirman tentang penjagaan tersebut:

اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّكۡرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰـفِظُوۡنَ

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran, dan Kami pasti yang memeliharanya.”
(QS. Al-Hijr: 9)

Salah satu bentuk penjagaan Alquran adalah melalui kesinambungan bacaan yang benar, yang dijaga melalui ilmu tajwid dan sanad-sanad para qari’.

Menghafal dengan tajwid adalah jalan menuju keabadian kalimatullah

Tajwid adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses menghafal Alquran. Tanpa tajwid, proses hifz tidak hanya kehilangan aspek keindahan fonetik dan bantuan memori auditori, tetapi juga rentan terhadap perubahan makna dan kesalahan teologis. Tajwid bukan hanya alat bantu teknis, tetapi juga merupakan pelindung makna, penjaga ruh wahyu, dan pembuka jalan tadabbur.

Menghafal Alquran adalah perjalanan spiritual yang suci. Ia bukan sekadar rutinitas mental, melainkan penyatuan hati, lidah, dan jiwa dalam satu kehendak; menjaga firman Allah di dalam dada. Tajwid menjadikan lisan kita selaras dengan lisan Jibril dan Rasulullah ﷺ, menghubungkan kita dengan rantai pewaris wahyu yang tak terputus. Dengan tajwid, hafalan kita bukan hanya kuat dalam ingatan, tetapi juga sah di sisi langit.

user avatar
Dibuat oleh
30 Jul 2025 5:50 PM
user avatar
Diedit oleh
30 Jul 2025 5:50 PM