Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam membangun peradaban Islam yang kokoh. Sebagai pendidik di sekolah tahfizh Alquran, memahami peran Ahlussunnah wal Jamaah dalam pendidikan umat menjadi hal yang sangat penting. Ahlussunnah, sebagai golongan yang berpegang teguh pada ajaran Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kemurnian ajaran Islam serta menyebarkannya kepada generasi penerus. Dalam konteks pendidikan, peran ini tidak hanya terbatas pada transfer ilmu, tetapi juga pada pembentukan karakter dan akhlak yang sesuai dengan tuntunan Alquran dan As-Sunnah. Allah Ta'ala berfirman:
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (٥) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (٦) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (٧)
“Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, (5) dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), (6) maka Kami akan memudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan).”
(QS. Al-Lail: 5-7)
Ayat ini memberikan pesan bahwa kemudahan dan kebahagiaan sejati hanya dapat diraih melalui ketakwaan, keikhlasan, dan keyakinan yang kuat terhadap janji Allah. Sebagai pendidik, kita harus menanamkan nilai-nilai ini kepada peserta didik, sehingga mereka tidak hanya menghafal Alquran, tetapi juga memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Di dalam Alquran, tedapat ayat yang menerangkan syarat mendapatkan pertolongan atau cinta Allah, Allah Ta'ala berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Ali ‘Imran: 31)
Ayat ini menekankan pentingnya ittiba’ (mengikuti) Rasulullah ﷺ sebagai syarat untuk meraih cinta dan ampunan Allah. Dalam aspek pendidikan, hal ini berarti bahwa pendidik harus menjadi teladan dalam mengamalkan ajaran Islam, baik dalam perkataan, perbuatan, maupun akhlak. Peserta didik akan lebih mudah meneladani pendidik yang konsisten antara apa yang diajarkan dan apa yang diamalkan.
Sebaliknya, Allah juga memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang mengaku mencintai-Nya tetapi tidak mengikuti perintah-Nya, sebagaimana firman-Nya terhahap perkataan Ahlul Kitab:
وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَىٰ نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ
“Orang Yahudi dan Nasrani mengatakan, ‘Kami adalah anak-anak dan kekasih-kekasih Allah.’”
(QS. Al-Ma'idah: 18)
Namun, pengakuan mereka tidak dibarengi dengan ketaatan, sehingga mereka dilaknat oleh Allah, sebagaimana firmannya:
فَبِمَا نَقْضِهِم مِّيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً
“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka Kami melaknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.”
(QS. Al-Ma'idah: 13)
Ini menjadi pelajaran berharga bagi pendidik untuk tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga memastikan bahwa peserta didik memahami dan mengamalkan ajaran Islam dengan benar.
Dalam lingkup sekolah tahfizh Alquran, peran Ahlussunnah adalah memastikan bahwa pendidikan yang diberikan tidak hanya fokus pada hafalan Alquran, tetapi juga pada pemahaman, pengamalan, dan penyebaran nilai-nilai Islam yang sesuai dengan manhaj salafush shalih. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya menjadi penghafal Alquran, tetapi juga menjadi generasi yang memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara kaffah, serta mampu menjadi teladan bagi umat.
Kembali kepada sunnah
Dalam konteks pendidikan di sekolah tahfizh Alquran, pesan Nabi Muhammad ﷺ tentang pentingnya kembali kepada sunnah menjadi landasan yang tidak dapat diabaikan. Nabi ﷺ telah mengingatkan umat Islam, terutama generasi akhir, tentang berbagai fitnah dan cobaan yang akan melanda, termasuk perpecahan dalam agama. Sebagaimana Nabi ﷺ bersabda:
وإِنَّ آخِرَهُمْ يُصِيبُهُمْ بَلاَءٌ وأُمُورٌ تُنْكِرُونَها
“Dan sesungguhnya umat yang terakhir akan ditimpa kepada mereka bala’ (cobaan) dalam agama dan mereka mengingkari urusan-urusan tersebut.”
(HR. Ibnu Majah: 3956)
Fenomena ini tidak hanya menjadi tantangan bagi umat secara umum, tetapi juga bagi lembaga pendidikan Islam, termasuk sekolah tahfizh, yang bertugas mencetak generasi penghafal Alquran yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang murni.
Mengarahkan anak-anak untuk mempelajari Alquran sejak usia dini merupakan prinsip mendasar dalam pendidikan Islam
Dalam haji wada’, Nabi ﷺ memberikan solusi konkret terhadap masalah perpecahan ini. Beliau ﷺ bersabda:
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Sesungguhnya, barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, ia akan menyaksikan perselisihan yang amat banyak. Maka, wajib bagi kalian untuk berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Genggamlah keduanya erat-erat, gigitlah dengan geraham (sebagai simbol keteguhan), dan jauhilah perkara-perkara baru (dalam agama) yang diada-adakan. Sebab, setiap perkara baru (yang dianggap ibadah) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah merupakan kesesatan.”
(HR. Abu Daud: 4607)
Hadis ini menegaskan bahwa sunnah Nabi ﷺ dan sunnah Khulafaur Rasyidin adalah obat bagi penyakit ikhtilaf (perpecahan) yang melanda umat. Dalam aspek pendidikan tahfizh, hal ini mengisyaratkan pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai sunnah ke dalam kurikulum dan praktik pembelajaran.
Dalam praktiknya, sekolah tahfizh dapat mengimplementasikan nilai-nilai sunnah melalui beberapa pendekatan.
Pertama, integrasi sunnah ke dalam kurikulum pendidikan, baik melalui mata pelajaran khusus seperti hadist dan sirah nabawiyah, maupun melalui penguatan nilai-nilai sunnah dalam setiap aktivitas pembelajaran.
Kedua, menciptakan lingkungan pendidikan yang mencerminkan akhlak dan adab yang diajarkan Nabi ﷺ, seperti kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang.
Ketiga, melibatkan para ulama dalam proses pembelajaran untuk memastikan bahwa materi yang diajarkan sesuai dengan pemahaman yang benar terhadap sunnah Nabi ﷺ.
Dengan demikian, kembali kepada sunnah bukan hanya sekadar slogan, tetapi menjadi sebuah keharusan dalam pendidikan tahfizh Alquran. Melalui pendekatan ini, sekolah tahfizh dapat berkontribusi dalam membentengi generasi muda dari berbagai fitnah dan perpecahan, sekaligus mencetak generasi yang tidak hanya hafal Alquran, tetapi juga mengamalkan nilai-nilai sunnah dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana pesan Nabi ﷺ, berpegang teguh pada sunnah adalah kunci keselamatan dan keberhasilan umat Islam di dunia dan akhirat.
Tarbiyah (Pengajaran)
Majelis ilmu merupakan salah satu sarana utama dalam proses tarbiyah (pengajaran) yang memiliki peran sentral dalam pembentukan karakter dan pemahaman keagamaan seorang Muslim. Sebagaimana yang tercermin dalam hadis Jibril yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَمِ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ' الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلاً . قَالَ صَدَقْتَ . قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ . قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ الإِيمَانِ . قَالَ ' أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ ' . قَالَ صَدَقْتَ . قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ الإِحْسَانِ . قَالَ ' أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ ' . قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ . قَالَ ' مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ ' . قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَتِهَا . قَالَ ' أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ ' . قَالَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا ثُمَّ قَالَ لِي ' يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ ' . قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ . قَالَ ' فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ
“Suatu hari, ketika kami berada di sisi Rasulullah ﷺ, tiba-tiba muncul seorang laki-laki dengan pakaian sangat putih, rambut sangat hitam, tanpa tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak seorang pun dari kami yang mengenalnya.
Ia duduk menghadap Nabi ﷺ, menyandarkan lututnya ke lutut beliau, meletakkan telapak tangan di atas paha beliau, lalu bertanya, 'Wahai Muhammad, jelaskan kepadaku tentang Islam.'
Rasulullah ﷺ menjawab, 'Islam adalah engkau bersyahadat bahwa tiada Tuhan yang berhad disembah selain selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan menunaikan haji ke Baitullah jika mampu.'
Pria itu berkata, 'Engkau benar.'
Kami pun heran: ia bertanya namun juga membenarkan jawaban Nabi.
Ia lalu bertanya lagi, 'Jelaskan tentang iman.'
Beliau menjawab, 'Iman adalah percaya kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta qadar (takdir) baik dan buruk.'
Pria itu kembali membenarkan, lalu bertanya, 'Jelaskan tentang ihsan.'
Beliau bersabda, 'Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu merasakan itu, yakinlah bahwa Dia melihatmu.'
Ia kemudian bertanya tentang Kiamat. Nabi ﷺ menjawab, 'Yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.'
Terakhir, ia menanyakan tanda-tandanya. Beliau bersabda, 'Jika budak melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, miskin, penggembala domba berlomba meninggikan bangunan.'
Setelah itu, pria itu pergi. Aku (Umar) terdiam sejenak, lalu Nabi ﷺ bertanya, 'Wahai Umar, tahukah engkau siapa penanya tadi?'
Aku menjawab, 'Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.'
Beliau bersabda, 'Itu adalah Jibril yang datang mengajarkan agama kalian.'”
(HR. Muslim: 8)
Proses pengajaran yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ mencakup tidak hanya transfer pengetahuan, tetapi juga adab, metode bertanya, dan cara menyampaikan jawaban. Hadis tersebut menggambarkan bagaimana Jibril datang dengan penampilan yang rapi dan sopan, menyandarkan lututnya ke lutut Rasulullah ﷺ, dan bertanya dengan penuh hormat. Hal ini menunjukkan bahwa dalam menuntut ilmu, adab dan etika memiliki posisi yang sangat penting. Sebagaimana dikatakan oleh ulama:
أول شيء التربية وأخره التربية
"Awal dari nikmatnya agama adalah pengajaran, dan akhir nikmat tersebut adalah kembali kepada pengajaran."
Pernyataan ini menegaskan bahwa tarbiyah bukan hanya sekadar proses transfer ilmu, tetapi juga pembinaan akhlak dan kepribadian.
Pendidikan anak adalah tanggung jawab besar yang Allah Ta'ala amanahkan kepada orang tua
Dalam lingkup sekolah tahfizh Alquran, tarbiyah menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi penghafal Alquran yang tidak hanya menguasai hafalan, tetapi juga memahami dan mengamalkan nilai-nilai Alquran dalam kehidupan sehari-hari. Imam Al-Barbahari dalam kitab Syarh Sunnah menyatakan:
اعلموا أن الإسلام هو السنة، والسنة هي الإسلام، ولا يقوم أحدهما إلا بالآخر
"Ketahuilah bahwa Islam adalah As-Sunnah, dan As-Sunnah adalah Islam. Tidaklah salah satunya dapat tegak kecuali dengan keberadaan yang lain.”
(Syarah As-Sunnah li Al-Barbahari: 35)
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa pengajaran yang benar harus berlandaskan pada Sunnah Rasulullah ﷺ, karena Sunnah merupakan penjelas dan praktik nyata dari ajaran Islam. Oleh karena itu, proses tarbiyah di sekolah tahfizh harus mengintegrasikan antara hafalan Alquran, pemahaman Sunnah, dan pembinaan akhlak.
Proses tarbiyah dalam majelis ilmu juga menekankan pentingnya interaksi antara guru dan murid. Dalam hadis Jibril, terlihat bagaimana Rasulullah ﷺ menjawab pertanyaan dengan jelas, sistematis, dan penuh kesabaran. Hal ini menjadi teladan bagi para pendidik di sekolah tahfizh untuk selalu bersikap sabar, teliti, dan penuh kasih sayang dalam mengajar. Seorang guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga membimbing murid untuk memahami hakikat ilmu yang dipelajari. Sebagaima yang disebutkan di kitab Al-Madkhal ila Shahih Al-Bukhari:
علم بلا أدب كنار بلا حطب، وأدب بلا علم كروح بلا جسم
"Ilmu tanpa adab bagaikan api tanpa kayu bakar, sedangkan adab tanpa ilmu bagaikan ruh tanpa jasad.”
(Kitab Al-Madkhal ila Shahih Al-Bukhari: 230)
Pernyataan ini menegaskan bahwa keseimbangan antara ilmu dan adab adalah kunci keberhasilan dalam tarbiyah.
Selain itu, tarbiyah dalam sekolah tahfizh juga harus memperhatikan aspek psikologis dan spiritual murid. Seorang pendidik harus mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan spiritual murid, sehingga mereka tidak hanya menghafal Alquran, tetapi juga merasakan kehadiran Allah dalam setiap aktivitas mereka. Sebagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan tentang ihsan:
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
"Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia melihatmu.”
(HR. Bukhari: 50; Muslim: 8)
Pengajaran seperti ini akan membentuk kesadaran murid untuk selalu merasa diawasi oleh Allah, sehingga mereka akan lebih khusyuk dalam menghafal dan mengamalkan Alquran.
Secara keseluruhan, tarbiyah dalam majelis ilmu di sekolah tahfizh Alquran harus mencakup aspek pengetahuan, adab, dan spiritualitas. Proses ini tidak hanya bertujuan untuk menghasilkan penghafal Alquran, tetapi juga membentuk generasi yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai Alquran dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, tarbiyah yang baik akan menjadi pondasi bagi kejayaan umat Islam di masa depan.