Loading...
Siak Hulu, Kampar, Riau
Mon - Fri : 09.00 AM - 09.00 PM
+62 818 880 600
Menuju Sekolah Tahfizh Makkah Mandiri

Talaqqi metode pembelajaran yang tak lekang oleh zaman

user avatar
Ditinjau oleh
26 Jan 2026 5:08 PM
image-article

Sumber Gambar: Tahfizh Makkah

Alquran merupakan kalam Allah Ta‘ala yang bernilai mukjizat, diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui perantaraan Malaikat Jibril ‘alaihissalam. Proses turunnya Alquran sendiri telah menegaskan pentingnya transmisi lisan yang akurat dan terjaga. Allah Ta‘ala berfirman:

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ العَالَمِينَ (١٩٢) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الأَمِينُ (١٩٣) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (١٩٤)

“Dan sesungguhnya Alquran ini benar-benar diturunkan oleh rabb semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruhul Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.”
(QS. Asy-Syuara’: 192-194)

Ayat ini menunjukkan bahwa wahyu tidak sekadar berupa teks, melainkan bacaan yang ditransmisikan secara langsung dan terjaga melalui proses penerimaan yang benar. Lebih jauh, Allah Ta‘ala menegaskan jaminan keterpeliharaan Alquran hingga akhir zaman dalam firmannya:

إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharannya.”
(QS. Al-Hijr: 9)

Jaminan ilahi ini tidak terlepas dari sebab-sebab syar‘i yang Allah tetapkan, di antaranya melalui sanad keilmuan dan metode pembelajaran yang benar. Dari perspektif pendidikan tahfizh Alquran, keterpeliharaan tersebut tidak hanya mencakup makna dan hukum-hukumnya, tetapi juga lafaz, huruf, serta cara pengucapannya. Membaca Alquran dengan benar merupakan bagian dari ibadah, sebagaimana memahami dan mengamalkannya.

Hal ini ditegaskan oleh Imam As-Suyuthi dalam Al-Itqan fi 'Ulumil Qur'an:

ولا شك أن الأمة كما هم متعبدون بفهم معاني القرآن وإقامة حدوده، هم متعبدون بتصحيح ألفاظه وإقامة حروفه على الصفة المتلقاة عن أئمة القراء المتصلة بالحضرة النبوي

“Tidak diragukan lagi bahwa umat ini, sebagaimana mereka beribadah dengan memahami makna-makna Alquran dan menegakkan hukum-hukumnya, mereka juga beribadah dengan membenarkan lafaz-lafaznya dan menegakkan huruf-hurufnya sesuai dengan cara yang diterima dari para imam qira’at yang sanadnya bersambung hingga ke Nabi.”

Pernyataan ini menegaskan urgensi talaqqi, yakni proses belajar langsung dari guru yang memiliki otoritas keilmuan, ketelitian bacaan, serta sanad yang jelas. Tanpa talaqqi, ketepatan makharijul huruf dan sifat-sifatnya sulit dicapai secara tepat.  

Metode talaqqi yang juga dikenal dengan istilah musyafahah merupakan metode pembelajaran Alquran yang telah dipraktikkan sejak generasi awal Islam. Metode talaqqi melibatkan interaksi langsung antara guru dan murid, baik dengan cara murid mendengarkan bacaan guru maupun membaca di hadapan guru untuk kemudian dikoreksi. Praktik ini terbukti efektif dalam menjaga ketepatan bacaan dan kesinambungan sanad keilmuan. Imam As-Suyuthi menegaskan bahwa membaca di hadapan guru adalah metode yang dipraktikkan oleh generasi terdahulu dan generasi sesudahnya. Imam As-Suyuthi berkata:

وأما القراءة على الشيخ: فهي المستعملة سلفا وخلفا

“Adapun membaca di hadapan guru, itulah metode yang dipraktikkan oleh generasi terdahulu dan generasi sesudahnya.”

Di antara dalil bolehnya membaca di hadapan guru adalah bahwa Nabi ﷺ memperdengarkan (membacakan) Alquran kepada Jibril setiap bulan Ramadan di setiap tahunnya. Dalam shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar memberi. Semangat beliau dalam memberi lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Alquran kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.”
(HR. Bukhari: 3554 dan Muslim: 2307)

Demikian pula Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menerima bacaan dari Jibril dengan cara mendengarkan, sebagaimana firman-Nya:

فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

“Maka apabila Kami telah membacakannya, ikutilah bacaannya.”
(QS. Al-Qiyamah: 18)

Selain itu, Rasulullah ﷺ secara eksplisit memerintahkan umatnya untuk mengambil Alquran dari para sahabat tertentu yang dikenal ketelitian dan keilmuannya dalam qira’ah, Rasulullah ﷺ bersabda:

خذوا القرآن من أربعة: من عبد الله بن مسعود، فبدأ به، وسالم مولى أبي حذيفة، ومعاذ بن جبل، وأبي بن كعب

“Ambillah Alquran dari empat orang: dari Abdullah bin Mas‘ud — beliau menyebutnya pertama —, Salim maula Abu Hudzaifah, Mu‘adz bin Jabal, dan Ubay bin Ka‘ab.”
(HR. Bukhari: 3808)

Dalam lingkup pendidikan tahfizh Alquran di era modern, prinsip talaqqi tetap relevan meskipun sarana pembelajaran mengalami perkembangan. Rekaman bacaan para qari’ yang mutqin dapat menjadi sarana bantu, terutama ketika akses kepada guru terbatas. Namun demikian, rekaman tersebut tidak dapat sepenuhnya menggantikan talaqqi langsung, melainkan berfungsi sebagai pelengkap. Terdapat kaidah fikih:

الميسور لا يسقط بالمعسور

“Sesuatu yang masih bisa dilakukan tidak gugur karena adanya kesulitan pada yang lain.”

Terdapat sebuah kisah yang dicatat oleh Imam As-Suyuthi dalam kitab Al-Itqan mengenai Imam Ibnu al-Jazari. Beliau menyebutkan:

ويحكى أن الشيخ شمس الدين بن الجزري لما قدم القاهرة وازدحمت عليه الخلق لم يتسع وقته لقراءة الجميع، فكان يقرأ عليهم الآية، ثم يعيدونها عليه دفعة واحدة

“Dikisahkan bahwa ketika Syaikh Syamsuddin Ibnul Jazari datang ke Kairo dan orang-orang berbondong-bondong menghadirinya, waktunya tidak cukup untuk membacakan Alquran kepada semua orang satu per satu. Maka beliau membaca satu ayat kepada mereka, kemudian mereka mengulanginya bersama-sama secara serentak.”

Kisah tersebut mengajarkan bahwa metode talaqqi bukanlah sekadar metode turun-temurun yang kaku. Lebih dari itu, ia merupakan sebuah sistem pengajaran yang terbukti mampu menyesuaikan dengan kondisi nyata di lapangan tanpa mengorbankan akurasi dan kualitas transmisi ilmu. Fleksibilitas yang ditunjukkan oleh Imam Ibnu al-Jazari, dengan tetap berpegang pada prinsip penyimakan dan koreksi langsung oleh guru, membuktikan bahwa inti talaqqi adalah menjaga interaksi edukatif yang hidup antara guru dan murid, bukan sekadar bentuk fisik pertemuannya.

Oleh karena itu, komitmen untuk mempertahankan, mengembangkan, dan memperkuat posisi talaqqi dalam kurikulum pendidikan tahfizh ini merupakan langkah strategis. Langkah ini tidak hanya bernilai sebagai ikhtiar akademis untuk menjamin keotentikan bacaan, tetapi juga merupakan amanah untuk memastikan sanad keilmuan Alquran tetap bersambung kepada generasi berikutnya dengan cara yang telah teruji keabsahannya sepanjang sejarah.

Guru melakukan talaqqi kepada muridnya: Tahfizh Makkah

Kelebihan dan kekurangan metode talaqqi dalam pembelajaran tahfizh Alquran

Metode talaqqi merupakan salah satu metode paling klasik dan bersanad kuat dalam pembelajaran Alquran, khususnya dalam pengajaran bacaan (tahsin) dan hafalan (tahfizh). Secara etimologis, talaqqi berasal dari bahasa Arab “talaqqā–yatalaqqā” yang bermakna “menerima secara langsung.” Dalam ranah pendidikan Alquran, talaqqi dipahami sebagai proses belajar di mana peserta didik menerima bacaan Alquran secara langsung dari guru dengan cara mendengarkan, menirukan dan dikoreksi secara langsung. Metode ini telah dipraktikkan sejak masa Rasulullah ﷺ, ketika beliau menerima wahyu dari Malaikat Jibril dan kemudian membacakannya kepada para sahabat, yang selanjutnya diwariskan secara turun-temurun hingga generasi Muslim saat ini. Praktik ini menjadi dasar kuat bagi keabsahan talaqqi sebagai metode pembelajaran Alquran yang otentik dan terjaga keasliannya.

Dari sudut pandang pendidik di sekolah tahfizh Alquran, talaqqi terbukti sangat efektif dalam pengenalan huruf hijaiyah, pembiasaan makharijul huruf, serta penerapan kaidah tajwid secara benar. Interaksi langsung antara guru dan peserta didik memungkinkan terjadinya feedback yang cepat dan akurat, sehingga kesalahan bacaan dapat segera diperbaiki sebelum mengakar. Hal ini sejalan dengan penegasan para ulama qiraat bahwa kebenaran bacaan Alquran tidak cukup hanya dipelajari melalui teks, tetapi harus melalui transmisi lisan dari guru yang mutqin. 

المقرئ: فهو العالم بالقراءات، التي رواها مشافهة بالتلقي عن أهلها إلى أن يبلغ النبي صلى الله عليه وسلم. 

“al-muqri’ (ahli qirā’āt) adalah seorang alim yang menguasai qirā’āt, yang meriwayatkannya secara lisan melalui proses talaqqi dan musyāfahah dari para ahlinya hingga sanadnya bersambung kepada Nabi Muhammad ﷺ.”
(Kitab Fatwa Yas’alūnaka, 13: 20)

Keberhasilan penerapan metode talaqqi sangat ditentukan oleh beberapa faktor utama:

Pertama, kualitas bacaan dan kapasitas keilmuan guru pembimbing. Guru tidak hanya harus memiliki hafalan yang kuat (hafizh), tetapi juga penguasaan ilmu qira’ah dan tajwid yang mumpuni serta memiliki sanad bacaan, karena guru berperan sebagai model bacaan yang akan ditiru oleh peserta didik. 

Kedua, penguasaan guru terhadap metode pengajaran talaqqi, yang mencakup kemampuan memberikan koreksi yang tepat, penyampaian yang mudah dipahami, dan penyesuaian pendekatan terhadap karakteristik individual murid.

Ketiga, ketekunan dan kedisiplinan murid dalam memahami materi, melaksanakan latihan berulang (muraja’ah), serta menjaga kontinuitas setoran (tasmi’) secara tertib. Sinergi ketiga faktor ini membentuk ekosistem pembelajaran yang ideal bagi kelestarian hafalan.

Metode talaqqi menawarkan sejumlah kelebihan substantif yang menjadikannya relevan hingga era modern:

Pertama, metode ini menumbuhkan kelekatan emosional antara pendidik dan peserta didik, sehingga tercipta hubungan yang harmonis dan penuh adab, yang merupakan nilai penting dalam pendidikan Islam. 

Kedua, pendidik dapat langsung membimbing dan mengoreksi bacaan peserta didik, sehingga kesalahan makhraj dan tajwid tidak berlarut-larut. 

Ketiga, peserta didik dapat melihat secara langsung gerakan bibir dari guru dalam melafalkan huruf-huruf hijaiyah, yang sangat membantu dalam pembelajaran Alquran. 

Keempat, talaqqi berfungsi sebagai sarana motivasi yang efektif, khususnya bagi  yang motivasi menghafalnya masih kurang. 

Kelima, metode ini mempersiapkan peserta didik untuk menghafal secara mandiri dengan bacaan yang sudah relatif benar, sehingga hafalan yang terbentuk lebih kuat dan terjaga kualitasnya.

Namun demikian, metode talaqqi juga memiliki sejumlah keterbatasan yang perlu dicermati oleh pengelola sekolah tahfizh, diantaranya:

Pertama, talaqqi kurang efektif apabila diterapkan secara klasikal pada kelas dengan jumlah peserta didik yang banyak, karena sifatnya yang individual. 

Kedua, metode ini relatif tidak efisien dari segi waktu, sebab membutuhkan durasi yang panjang dalam proses talaqqi. 

Ketiga, peserta didik dengan kemampuan kognitif rendah atau daya tangkap yang lambat cenderung memerlukan waktu lebih lama dalam menyelesaikan hafalan, sehingga membutuhkan kesabaran ekstra dari pendidik. 

Keempat, sebagian anak mudah merasa bosan, terutama ketika harus menunggu giliran setoran, khususnya jika terdapat perbedaan kecepatan hafalan antar peserta didik. 

Dengan demikian, metode talaqqi tetap merupakan metode unggulan dalam pembelajaran tahfizh Alquran, terutama dalam menjaga kualitas bacaan dan sanad keilmuan. Namun, metode ini perlu dikelola secara bijak dan bila perlu, dikombinasikan dengan metode lain yang bersifat pendukung agar kelemahannya dapat diminimalisasi tanpa mengurangi esensi dan keutamaannya.

user avatar
Dibuat oleh
26 Jan 2026 5:08 PM
user avatar
Diedit oleh
26 Jan 2026 5:08 PM